JASMERAH, Janganlah sekali-kali melupakan sejarah

Saya kira sudah tidak usah dibicarakan lagi. Contoh riilnya kegiatan kita ini, sudah santun, sudah menyatu, di mana-mana sudah ada pembangunan, di mana-mana orang sudah bisa berolahraga dengan nyaman, tadi saya lihat di pinggir jalan orang sudah bisa berolahraga Voli dengan tenang, dan juga ada sepak bola, pasar pun sudah kembali dibuka sampai sore dan pedagangpun sudah bisa berdagang dengan aman.

Inilah suatu gambaran bahwa sesungguhnya kalaupun disebut lagi tentang bab berpolitik santun untuk menyatukan bangsa, untuk membangun masa depan, mungkin dalam konteks Al-Qur’an disebutkan sebagai hanya saling mengingatkan saja, karena kita sebagai orang yang beriman akan mendapatkan keuntungan, akan mendapatkan manfaat bila kita selalu diingatkan dan mengingatkan agar berkomitmen untuk sukses. Hal ini penting karena kita menjadi tahu ketika kita berorientasi untuk melaksanakan hukum, menegakkan hukum, menetapkan aturan, menghadirkan kebersamaan, ternyata itu diapresiasi, ternyata itu dinilai sebagai sesuatu yang positif, ternyata itu banyak yang menyetujuinya, karenanya kita harus menilainya menjadi sesuatu yang penting, bersama-sama menyelamatkannya ke depan, dan kita jangan bosan untuk melakukannya dan jangan ada yang merasa rindu untuk kembali pada masa konflik pada waktu itu.

Sudahlah itu masa lalu, semuanya menyesalinya, semuanya tidak ada yang mengharapkan untuk berkelanjutan, justru yang harus diteruskan adalah kondisi santun untuk membangun, kondisi tertib dan damai seperti yang sekarang ini kita dapatkan. Karenanya salah atu langkah utama untuk menghadirkan semua ini adalah, ingatlah sejarah ketika kondisinya sungguh tidak aman, ketika kondisinya ada  konflik, ketika kondisinya adalah tidak menghadirkan suasana kehidupan yang nyaman, tidak menghadirkan suasana kondusif untuk membangun, justru yang ada menimbulkan kekhawatiran, disorder, tidak ada hukum sehingga semuanya menimbulkan chaos, semuanya dirugikan. Jadi prinsip ini adalah prinsip yang harus selalu kita pegang.

Kalau kita ingin menghadirkan kesantunan, maka belajarlah dari sejarah ketika tidak santun itu hadir dan semuanya menjadi fitnah, jika kita ingin membangun, ingatlah sejarah ketika kita tidak bisa membangun ketika semuanya menjadi betapa dirugikan. Ketika kita ingin menjadi bagian solutif di tingkat nasional, ingatlah ketika kita menjadi beban di tingkat nasional, sangat tidak nyaman. Itulah karenanya sejarah adalah sesuatu hal yang harus dipentingkan. Jika dahulu Bung Karno pernah mengatakan JASMERAH, Janganlah sekali-kali melupakan sejarah. Tapi yang harus diingat adalah bukan faktor gagalnya, tapi sebaliknya betapa yang gagal itu membuat kita menjadi sedih, membuat kita tidak nyaman, membuat kita tidak bisa membangun, membuat kita menjadi banyak permasalahan.

Kalau kita kembali pada litaratur sejarah, Muqaddimah Ibnu Khaldun, beliau pernah mengatakan, sesungguhnya masa depan kita itu tidak pernah berangkat dari nol, masa depan kita adalah sesungguhnya merupakan kelanjutan dari masa dahulu dan kemarin. Permasalahannya adalah masa kini yang mana yang akan kita lanjutkan untuk masa depan. Masa lalu mana yang akan kita lanjutkan untuk masa depan kita, karena selalu saja dalam masa kini atau masa yang kemarin ada faktor gagal dan faktor berhasil. Kalau mau mengulangi faktor gagal bisa, dan pastinya akan sama gagal juga, tapi tentunya masyarakat manusia, masyarakat beragama pastilah tidak ingin mengulangi faktor gagal. Apapun agama kita, apapun rasionalitas kita, apapun latar belakang pendidikan kita pastilah tidak akan mengajarkan dan atau membolehkan untuk mengulangi faktor kegagalan. Atau kita ingin ulangi masa lalu kita, masa sekarang kita untuk masa depan kita adalah faktor berhasil, apakah faktor-faktor berhasil itu? Itulah yang akan membuat kehidupan kita menjadi nyaman, ini yang pertama.

Yang kedua tentu kesantunan, membangun, kebersamaan adalah sesuatu yang hadir dalam bentuk yang konkrit. Jadi yang saya ingin katakan adalah, jika kita ingin menghadirkan kesantunan, jika kita ingin menghadirkan faktor membangun, menghadirkan menjadi bagian dari kesatupaduan bangsa ini maka yang harus dilakukan oleh partai politik atau siapa pun juga di luar partai politik  adalah, mulailah menghadirkan faktor-faktor nilai tentang santun, membangun, kesatupaduan itu dalam dunia nyata, janganlah menjadikan itu semua hanya sekedar menjadi jargon politik, hanya menjadi simbol saja, hanya menjadi peringatan-peringatan saja, hanya menjadi program kerja saja, hanya menjadi mimpi-mimpi saja, jangan. Mulailah ubah itu semua menjadi realita kehidupan berpolitik yang konkrit. Sebab dalam kehidupan berpolitik atau di luar politik, banyak sekali orang yang berteori, menyampaikan sekian banyak wacana, menyampaikan sekian banyak kaidah-kaidah, menyampaikan sekian banyak harapan-harapan, cita-cita, program kerja, jika itu tidak dilaksanakan maka tidak akan meghadirkan kesantunan.

About Santiago Byas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *